Mengenal Lebih Dekat Auto Reject Saham ARA dan ARB

Mengenal Lebih Dekat Auto Reject Saham ARA dan ARB

Bakrabata.com – Apakah sebelumnya kamu sudah mengenal dan mengerti denagn istilah investasi, atau dengan istilah ARB atau ARA? Mungkin kata ini sudah tidak asing lagi bagi para investor saham.

Nah di sini, dalam artikel bakrabata ini kami akan menjelaskan mengenai hal tersebut, maka dari itu yuk kita simak ulasan lengkapnya, agar kamu lebih paham apa yang sedang di bahas sesuai topik di atas.

Istilah auto recect, ARA atau ARB pasti tidak asing lagi bagi para investor saham di tanah air tercinta maupun di mancanegara. Bagi kamu yang memulai mencoba berinvestasi disalah satu instrumen investasi ini, pasti akan kerap mendengar ungkapan seperti ‘Aduh, sahamnya kena ARB dan ‘Asyik, sahamnya ARB.

Bahasa dan istilah itu kemungkinan sangatlah asing untuk di dengar, namun bagi investor pemula akan kian sering mendengar bahasa dan istilah tersebut di dunia trading saham atau investasi saham.

Apa Auto Reject Saham, dan Apa ARB serta ARA? Apa Perbedaan Keduanya ?

Pada dasarnya, harga saham sangatlah mudah untuk bergerak naik dan turun tau bergerak sama sekali kerena transaksi yang menjadi di pasar saham.

Akan tetapi, apakah kemudian harga saham bisa bergerak tidak terkendali di dalam satu hari perdagangan saham? Melansir dari Kompas.com serta dari Bursa Efek Indonesia, auto reject dan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan bursa.

Mekanisme auto rejection ini di berlakukan untuk melindungi investor dari fluktuasi harga saham yang selalu tinggi.

Auto Reject Atas ARA

Auto reject atas atau ARA adalah batasan maksimum kenaikan harga sebuah saham dalam satu hari. Bats kenaikan harga tersebut dinyatakan dalam persentase.

Sistem auto rejection sendiri telah di atur dalam Jakrta Autometed Trading Syistem. Selanjutnya BBEI telah menentukan batasan ARA sesuai dengan Keputusan Direksi Nomor Kep- 00023/BEI/03-2020.

Beserta ARA sangat tergantung pada acuan harga saham yang telah dimasukan anggoto bursa di dalam sistem HATS NEXT-G tersebut. Selebihnya bisa di lihat dan di baca di bawah ini.

Untuk harga acuan Rp 50 sampai dengan Rp 200, ARA bila kenaikan harga saham di atas 35 persen, untuk harga Rp 200 sampai dengan Rp 5.00 sebesar 25 persen, dan untuk harga di atas Rp 5.000 20 persen.

Sebagai contoh saja, untuk harga saham PT Bukalapak.com Tbk sendiri (Buka) yang melesat hingga 24,71 persen dari Rp 850 menjadi Rp 1.060 perr saham pada perdagangan hari pertama, Jumat 6 Agustus 2021 kemarin.

Pada transaksi tersebut untuk saham Bukalapak pada perdagangan hari pertama sebanyak 4.239 kali dengan nilai transaksi yang diperoleh sebesar Rp 555,59 miliar dari 524 juta lembar saham yang telah di perdagangkan.

Auto Reject Bawah ARB

Auto reject bawah atau ARB adalah kebalikan dari ARA, yaitu batasan maksimum pada penurunan dengan harga saham itu sendiri. Penurunan harga saham yang tidak terkendali bila terjadi tidak ada order di antrian beli (bid) harga saham, sementara aksi jual terjadi.

Untuk ketentuan batas ARA mulainya adalah sebesar 20 persen hingga 35 persen. Namun, saat ini pandemi membuat koreksi harga saham besar-besaran dan BEI mengubah ketentuan ARB menjadi 10 persen sebelum akhirnya menjadi 7 persen.

Ketentuan ARB sesuai dengan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 yakni Rp 50 atau kurang dari 7 persen untuk harga acuan Rp 50 sampai dengan Rp 200 dan untuk harga di atas Rp 200 sebesar 7 persen.

Yang harus perlu diketahui adalah, khusus untuk saham IPO atau saham yang baru tercatat pada pertama kali di papan bursa, maka batasan yang berlaku sebesar dua kali dari persentase auto rejection.

Selain itu, pembukuan bagi investor sendiri adalah pembelian maksimal saham sebanyak 50.000 lot atau 5 persen dari jumlah eek tercatat (mana yang lebih kecil). Bila melampoui jumlah tersebut, maka akan terkena auto rejection.

You May Also Like

About the Author: Obast

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *